Visi Misi Menikah (Bab 2)

20190626_000151_0000.pngHay, I’m coming back…

Dalam rangka memenuhi dan menepati janji untuk meneruskan penulisan bab menikah. Eh mungkin lebih tepat kalau persiapan menikah atau mempersiapkan pernikahan yaaaaa….

Langsung aja, tapi sebelumnya aku mau curhat dulu ^^

Kapan aku terakhir pacaran? (tanya sama diri sendiri). Kurang lebih sekitar 6 tahun yang lalu, waktu aku menyelesaikan studi tingkat SMA dan awal-awal masa perkuliahan. Kala itu yang mungkin bisa dibilang lagi masa cinta monyet, belum pernah deket sama cowok. Tapi yaa dengan alasan klasik akhirnya kandas juga hahahaha.

Well setelah dewasa ini aku sadar, semua kisah singkat diatas adalah semacam wasting time. Bener-bener buang waktu dan memang kala itu bukanlah waktu yang tepat untuk mulai berpacaran.

So setelah 6 tahun aku bertahan di tengah hempasan bully-an kawan atas kejombloanku. Eee bukan jomblo, tapi single. Aku rasa single bukanlah suatu hal yang memalukan; biasa aja kali. Menurut pengamatan yang sudah kulakukan berkali-kali yaaa : pacaran yang bukan menuju persiapan pernikahan it’s means wasting time!

Banyak macam curhatan temanku yang memilih untuk berpacaran tanpa kesiapan menuju pernikahan hanya berujung dengan air mata dan makan hati. Karena pacar jadi kehilangan sahabat, yaa mau gimana salah sendiri kalo pacaran alih alih dunia sudah seperti milik berdua saja. Nanti kalau sudah putus baru cari-cari sahabat lagi buat cerita pahit-pahitnya. Belum lagi habis modal di ongkos, ada kawan yang dapet pacar pelit banget dan mau ga mau jelas tiap kali jalan kawanku inilah yang keluar uang. Padahal ya kalau mau sadar tu uang adalah uang saku dari ortu, OMG -__-

Ada lagi versi skripsi terbengkalai karena ditinggal pacaran mulu, hahaha. Pas putus eh yang cewek  udah siap aja dilamar sama anak tetangga desa sebelah. Akhirnya yang cowok ditinggalin dong karena sarjana aja belum kelar. Sakit ga tuh?

Any way masih banyak lagi macam kasus yang akan terjadi kalau-kalau kita memilih berpacaran tanpa kesiapan menuju pernikahan. Bisa saja pandanganku dan kalian berbeda mengenai kisah-kisah di atas, tapi itulah yang menjadikanku belajar.

***

Sampai akhirnya pada satu titik aku di tanya oleh pembimbing rohaniku. Ayat apa yang aku pegang untuk meyakini bab pasangan hidup. Haduhhhhhhh aku yang sama sekali belum pernah berpikir ke arah sana; gelagapan dong disuruh jawab langsung. Akhirnya aku ijin ke pembimbing, satu minggu lagi aku beri jawabannya yaa 😦

Satu minggu yang membuatku galau, ya galau karena memang belum ada aku mendoakan bab pasangan hidup. Apalagi bab ayat yang aku pegang mengenai janji bab pasangan hidup. Tiba waktu ketemu kakak pembimbing, spontan aku teringat dengan ayat di Pengkhotbah 3 : 11 yang mengatakan “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir”.

Ayat paling aman, wkwk karena Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Tapi semua disanggah sahabatku, indah kalau kamu ga gerak ga berusaha ya you will still single, Mim!

I think no, kurasa bukan itulah poinnya. Sebab dalam diam dan seolah tidak berbuat apa-apa, akupun berdoa. Akupun memperbaiki diri supaya katanya kalau aku sudah siap nanti, ya Allah akan menghadirkan yang tepat itu di waktu yang katanya “Indah pada waktunya”– itu.

***

Hingga aku mendapat suatu pencerahan dari Gary Thomas yang dalam beberapa paragrafnya mengatakan demikian :

Bisakah Anda menolong saya? Pasti ada sebuah versi Alkitab di luar sana yang belum saya baca. Versi Alkitab yang mengandung klausa pengecualian misterius.

Saya pikir saya sudah mencakup semu dasar yang diperlukan riset saya. Saya sudah memberikan Alkitab King James Version, English Standard Version, New King James Version, New International Version (baik yang edisi di tahun 1984 maupun 2011), the Message, New Living Translation, New American Standard, dan banyak versi lainnya. Tak satu pun dari versi itu – tidak satu pun – mengandung klausa pengecualian yang sedang saya cari-cari. Jadi, kalau Anda menemukan, tolong beritahu saya lewat email versi manakah yang mengandung klausa pengecualian itu? Karena kelihatannya, itu adalah versi yang dibaca banyak lajang hari-hari ini.

Klausa pengecualian yang saya maksud adalah yang terdapat dalam Matius 6 : 33. Demikian bunyi ayat itu : “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Versi misterius yang sedang saya cari-cari adalah versi yang saya lihat sering dibaca dan dihafal oleh banyak orang. Bunyinya seperti ini : “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, kecuali jika kamu sedang mencari seseorang untuk kamu nikahi. Dalam hal ini, kamu harus mengikuti emosimu, mementingkan daya tarik cinta yang menggairahkan, dan kecocokan rasional yang membuat hubungan itu menyenangkan, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Sacred Search, 2018 : 17-18)

Membaca potongan paragraf diatas membuatku diingatkan, nyatanya Allah sedang sungguh-sungguh memiliki niat di hati-Nya untuk memberikan dan mendatangkan apa yang baik bagi kita – menurut pandangan-Nya. Lantas setujukah kita dengan Matius 6 : 33 tersebut?

Mengapa kita memutuskan untuk berpacaran? Mengapa kita memutuskan untuk menikah? Mungkinkah jatuh cinta saja tidak cukup untuk memutuskan menikah? Sangat mungkin jawabku.

Sederhana saja penjelasanku; bertolak dari Matius 6:33 tadi bukankah benar induk kalimat pertamanya, “carilah Allah terlebih dahulu = kerajaan dan kebenarannya.”

Mengapa kita menikah? Jelas sekitaran akan menjawab ya karena memang di usia mu saat ini adalah saat yang tepat untuk menikah. Saat yang tepat karena usia bukan karena kesiapan. Ini ga benerrrrr!

Lantas karena tuntutan usia jadi asal pilih, berdoanya begini : “Tuhan orang pertama yang turun dari mobil hitam itu nanti adalah jodohku, amin”. Nyatanya yang turun adalah seorang Nigeria berkulit hitam, nahloo makan itu doa ngarang bin ngawurnya. Budaya serta lingkungan sosial acap kali memiliki tolak ukurnya sendiri dalam penentuan bab menikah, dan menurutku kita tiadak wajib untuk berkompromi dengan ketetapan-ketetapan itu.

Menikah dengan modal perasaan jatuh cinta saja tidak cukup. Kita harus menetapkan standar yang lebih tinggi. Misal kembali lagi ke Matius 6:33; carilah dahulu Dia.

Ingat perumpamaan segitiga ini tidak?

images (2).jpeg

Kalo setia dan bertekun dengan carilah dahulu Dia dan kerajaannya yaa jelas bisa jadi bertemu di waktunya yang indah itu seperti kata Pegkhotbah 3:11.

Tapi jangan terus sengaja bertekun dengan Matius 6:33 dan menjadikannya alasan supaya mendapat sesuatu.

Well semakin kita mencari-Nya dan menjadikan-Nya yang terutama, semua jelas akan dibukakan satu persatu. Namun tentu sesuai rencana dan rancangan-Nya yang “pas” buat kita lho yaaa…

Iklan

Visi Misi Menikah (Bab 1)

20190615_010147_0000.pngHello readers…!

Setelah sekian lama aku mengingkari janji untuk rajin menulis, I’m going back 🙂 

Meski beberapa ide tercecer pada derap langkah waktu, malam ini aku berhasil menahannya.

So silahkan baca apa yang akan kubagi malam ini. Kita sama-sama belajar yaaaa, dan kalau-kalau ada komentar jangan sungkan untuk disampaikan.

Dewasa ini aku menjadi seorang yang sangat gemar berdiskusi. Tentang apapun itu, terlebih jika itu mengenai bab yang sedang “hype”. Dari sekian banyak teman yang kumiliki, aku memutuskan hanya dengan beberapa teman aku bisa berdiskusi mengenai hal-hal yang bahasannya sampai mendalam.

Jadi begini ceritanya, pada satu kali seorang teman Dimas namanya sedang berbagi cerita padaku tentang saudara laki-lakinya yang tengah mempersiapkan pernikahan. Sudara laki-lakinya itu bernama Anton. Kemudian satu pertanyaan yang Dimas sampaikan kepada Anton adalah “Setelah menikah kamu akan melakukan apa? Apa visi misi mu ketika memutuskan menikah?”.

Sontak mataku melotot dan pikiranku mulai mereka-reka jawaban apa yang akan diberikan oleh Anton kepada Dimas.

Ini mau menikah atau mau nyalon jadi ketua OSIS sih ya, pake ada visi misi segala. Kan susah kalau aku sendiri ditanya spontan dan harus memberi jawab saat itu juga.

Tapi bener juga sih pertanyaan Dimas. Sekalipun aku belum terlalu memikirkan ke arah sana (menikah), namun visi misi itu memang penting.

Karena menikah bukan hanya tentang pesta pada hari H dan kemudian selesai begitu saja. Tapi masih ada hari-hari yang harus dijalani seusai pesta pernikahan berlangsung.

Serta bab teman hidup hanya boleh memilih satu untuk seumur hidup, tidak bisa ditukar atau dibatalkan pilihannya ditengah jalan. Satu untuk selamanya, jadi jangan coba-coba asal pilih tanpa babibuuuuuu.

Sampai pada malam ini aku menemukan beberapa kalimat dalam runtut paragraf yang mengatakan :

“Orang yang anda nikahi adalah orang terakhir yang akan Anda lihat setiap malam sebelum tidur. Wajahnya adalah wajah pertama yang akan Anda lihat setiap kali Anda bangun tidur di pagi hari. Kata-kata mereka akan menyemangati atau meruntuhkan Anda, humornya akan membuat Anda tertawa penuh kegirangan atau menangis karena rasa malu. Tubuhnya akan menyenangkan atau mengancam Anda. Tangannya akan memeluk atau melukai Anda. Kehadirannya akan menjadi ramuan penyembuh atau pengingat segala rasa sakit Anda.”(Sacred Search,2013)

Kemudian disusul dengan steatment pembimbing rohaniku yang mengatakan bahwa, apakah setelah menikah kamu mau menciptakan sorga atau neraka; tangis sukacita atau penderitaan.

Tapi tunggu, pernikahan memang bukan melulu tentang yang bahagia-bahagia terus. Jelas juga bahwa akan ada masalah dan tantangan yang harus dihadapi dan dilalui bersama (tidak satu pihak saja).

Lantas pikiranku kembali melayang pada pertanyaan yang dilontarkan Dimas pada Anton, yang ternyata Anton tidak  bisa menjawabnya. Anton hanya bisa terdiam. Mungkin beberapa hari kedepan Anton akan segera membuat jawabannya dengan membuat list visi-misi mengapa menikah dan setelah menikah.

Setelah hal diatas, terputuslah diskusiku bersama Dimas soal visi-misi menikah. Dan aku belum sempat mendengar penjelasan Dimas terkait jawaban Anton mengenai visi-misi menikah.

***

Jadi daripada terus penasaran dengan jawaban Anton terkait visi-misi menikah, pikiranku yang tadinya melayang dengan reka-reka jawaban menjadi kembali fokus.

Berlari menuju rak buku mengambil notes harianku, mengecek kembali list kriteria pasangan hidup yang pernah aku buat. Alih-alih membacanya ulang, ternyata aku perlu memperbaharuinya. Tentu ini adalah efek dari pertanyaan Dimas ke Anton tentang visi-misi menikah.

***

Bagaimana dengan kalian yang mungkin sedang atau bahkan sudah memutuskan menikah?

Apa visi-misi kalian?

Boleh dong share ke aku.

#Bersambung ke tulisan berikutnya yaaa, aku akan bertapa sebentar untuk menyelesaikan membaca beberapa buku yang ada.

Semoga ga makan waktu banyak untukku menerbitkan bab selanjutnya hehe….

Good night, reader (selesai ketik dan edit tepat pukul 01.00 WIB).

Your answer is closer than you think

20190216_145024_0000

You’ve alredy prayed.

So don’t worry.

God heard you.

Your answer is closer than you think.

Kata-kata dari instastory temanku ini sungguh meneguhkanku.

Kemarin aku mengambil uang di ATM, sebenarnya masih mau nanti-nanti saja. Namun akhirnya ya sudahlah, 200K aku gunakan untuk membayar uang rumah dan 50K aku siapkan untuk hari ini membeli bensin karena besok akan pergi rapat.

Malamnya ketika aku menghitung uangku, sisa 50K yang sudah aku siapkan tidak ada. Entah terselip dimana; namun seingatku aku menyimpannya di dompet juga bersama dengan uang 200K yang aku siapkan untuk membayar uang rumah.

Akhirnya aku bergegas ke garasi, cek bensin motorku. Oke masih ada satu strip, cukuplah untuk PP ke tempat rapat. Ternyata malam itu motorku dipinjam teman. Sempat dalam hati untuk menahan tidak memberi pinjam, tapi aku berusaha tenang dan yakin besok pasti tetap bisa berangkat. Karena aku masih ada simpanan 10K di dompet kecil. Masih bisa untuk beli bensin.

Ketika pagi tiba, masih saja aku memikirkan dengan bensin motorku. Kalau aku pakai uang 10K untuk membeli bensin, maka aku tidak ada uang lagi.

Tapi Roh Kudus mengingatkan lagi bahwa aku berharga di mata-Nya, burung pipit saja Ia pelihara masakah aku tidak?

Sempat sedikit protes ke Tuhan dengan keadaan, namun akhirnya aku memutuskan untuk berdoa. Doanya singkat : “ Tuhan, mbuh pie carane pokok bensinku nanti ada yang ngisiin, gak tau gimana caranya, Amin.”

***

Kembali teringat dengan komitmen di awal tahun kemarin untuk belajar “mempercayai Tuhan”.

Puji Tuhan, Dia memanglah Tuhan yang berdaulat atas segala keputusan dan angung dalam kebijaksanaan.

Belum sampai 30 menit kemudian, aku mendapat pesan whatsapp dari seorang teman. Isinya adalah dia menawarkan untuk aku berangkat bersama dia ke tempat rapat. Bahkan karena esok sorenya masih ada rapat di tempat lain, ia juga menawarkan untuk aku ikut sama-sama dia sampai sore keesokan hari.

Wow, how great is our God! Dengan cara yang ajaib Dia memberi jawab, pas. Pasti pas! Sambil balas whatsapp teman itu tak terasa air mata menetes, aku malu. Padahal baru semalam aku bertemu pembimbing PA dan membicarakan supaya mempercayai cara kerja Allah. Sebab Dia tahu takaran yang pas untuk kita. Seperti dalam Yesaya 28:27, “Sebab jintan hitam tidak diirik  dengan eretan pengirik, dan roda gerobak tidak dipakai untuk menggiling jintan putih, tetapi jintan hitam diirik dengan memukul-mukulnya dengan galah, dan jintan putih dengan tongkat.

Yaa, Tuhan tahu benar apa yang sedang Ia perbuat terhadap kita. Ibarat kata Tuhan tau bagaimana cara yang tepat untuk mendisiplinku. Seperti buku yang aku baca, mengatakan bahwa disiplin selalu merupakan persiapan untuk suatu berkat dan mau tidak mau akan mendatangkan berkat apabila diterima dengan benar.

Memang diperlukan respon yang benar untuk setiap keadaan dan kondisi yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita.

Sementara aku menulis kesaksian ini, aku memutar lagu “I have decaided to follow Jesus”. Tak terasa air mata kembali menetes membasahi pipi. Aku memang orangnya cukup lemah dalam hal seperti ini, mudah menangis. Bukan karena apa-apa, tapi aku selalu dibuat haru oleh perbuatana tangan-Nya yang maha ajaib dan tak terselami itu!

Terimakasih Tuhan untuk latihan kali ini, Engkau ajaib!

Engkau tahu bagaimana cara memperlakukan benih jintan hitam, jintan putih dan gandum jewawut. Tuhan menaruh perhatian atas sifat benih maupun nilainya dan cara pemukulannya disesuaikan dengan itu. Memperlakukan masing-masing benih dengan cara yang sama akan merusak beberapa benih demikian sehingga tidak dapat diperbaiki lagi, atau membiarkan benih lain tak terkupas dari sekamnya. Ia harus menggunakan jumlah waktu yang tepat untuk mecapai tujuan. Pukulan perlahan-lahan dengan tongkat sudah cukup untuk jintan hitam, tetapi gandum jewawut memerlukan alat pemukul yang  berat. (Kedewasaan Rohani, 1962:40)

Thank You, God. I’m blessed!

God bless you gaes ^^ (YD)

Razia Dosa, Tepatnya!

driving license

Pagi ini mendung disertai hawa dingin menyergap Semarang dan sekitarnya. Sementara mentari dengan malu-malu mengintip diantara awan mendung yang berarak. Bersama mataku yang sedikit sayu karena dipaksa untuk bangun pagi. Padahal aku baru siap pergi tidur pagi itu juga. Diantara banyak deadline yang harus dikejar untuk dikerjakan, aku pun harus menyadari. Menjadi dewasa dan hidup dengan banyak tanggung jawab (include deadline), bukanlah hal yang mudah.

Sebab kali ini jika kerjaan tertunda dan belum terselesaikan, aku sudah tidak bisa nge-les lagi dengan banyak alasan. “Orang dewasa itu tak suka beralasan apa lagi mencari-cari alasan demi menyelamatkan diri”, kata temanku. Perkataan yang cukup menghujamku, makannya seperti tertanam.

Akhirnya dengan mata yang (sebenarnya) masih ingin menutup, aku menguatkan diri untuk pergi ke percetakan. Ya baru kemarin aku memasukkan buku bahan PA untuk dicetak. Karyawan percetakan mengatakan dalam waktu dua hari buku akan siap untuk diambil. Namun melalui pesawat telefon dia mengatakan bahwa hari ini aku harus ke tempat percetakan. Guna cek dan ricek cetakan pertama, mana tau masih ada yang mau direvisi.

Kelar urusan di percetakan, aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan daerah. Maklum buku bacaan menumpuk, menuntut untuk dibaca sampai selesai. Ketika aku mengendarai motor dan tiba di salah satu perhentian lampu merah, nampak di depan ada kerumunan.

Terdeteksi ada razia kelengkapan surat kendaraan oleh polisi. Aku yang sebenarnya sudah memiliki SIM mendadak panik. Untung detikan lampu merah masih cukup lama, jadi aku masih bisa mengingat-ingat apakah ada SIM dan STNK lengkap di dompetku.

Maklum pasca KKN di Wonosobo yang mana menyebabkan aku terlambat melakukan perpanjangan SIM, SIM-ku pun mati.

Beberapa kali ikut tes SIM dan selalu gagal (merasa ga pintar, kalah sama adikku yang baru 17 tahun). Dalam kegagalan aku pun menyerah untuk membuat SIM. Jika dihitung-hitung sudah 3 tahun aku hidup berkendara keliling Semarang, PP Magelang-Semarang tanpa memiliki SIM.

Ohhh what theeeee…. Ini pelanggaran berat, tapi entah kenapa aku mau sombong, aku belum pernah kena razia. Pernah sekali sih nyaris kena, tapi dasar nekat sudah di hadang polisi di depan aku sok yakin meliak liuk bak pembalap dengan kecepatan tinggi. Puji Tuhan aku lolos razia, hahahahhaa. Ampun deh yaa, udah ga punya SIM, lolos razia dan bilangnya puji Tuhan pula; ini pelanggaran arena sorga dan bumi!

Untuk tips dan trik nya bagaimana aku bisa hidup 3 tahun berkendara tanpa SIM adalah : pergilah pada waktu subuh (pagi buta), sore menjelang malam dan malam hari. Tapi paling aman dan nyaman adalah pergi pagi buta. Eh satu lagi, waktu hujan deras. Hahahahha cobain deh, tapi jangan ding! Ini tips yang menyesatkan jangan ditiru meski dengan sengaja aku membagikan pada kalian.

Kembali ke razia di depan mataku tadi pagi ya, yang mana sempat membuatku (sedikit) panik. Ketika dalam kondisi panik dan mencoba tenang karena memang sebenarnya saat ini aku sudah memiliki SIM, Roh Kudus mengingatkan satu hal dalam hatiku.

Sederhana, hanya dengan satu kalimat dalam hatiku : “Begitulah kondisi orang yang berbuat dosa”. Keras juga bah, tapi benar sih. Ibarat orang tau salah tapi menghindar. Ibarat orang pertama kali berbuat dosa, pasti deg-degan ada rasa takut. Untuk kedua kali deg-degan sudah tak seperti ketika pertama kali berbuat dosa. Lama-lama karena sudah lihai akhirnya yang ada tenang karena deg-degan tadi sudah “mati”.

Bisa jadi ini yang kualami selama 3 tahun hidup tanpa SIM. Ampuni Yemima yang nakal dan bandal ini ya Tuhan. Selama 3 tahun tanpa SIM, setiap bertemu polisi degup jantungku selalu berdetak lebih cepat dari biasanya. Tangan dan kaki gemetar, takut ketahuan kemudian ditilang.

Kenapa begitu? Ya jelas aku takut dan gemetar karena aku sadar aku tak punya SIM. Hal itu terbawa sampai hari ini. Jika ada polisi di dekatku apalagi polantas, tangan dan kakiku otomatis gemetar (ngewel kata orang Jawa). Itulah kenapa tadi ketika aku berhenti di lampu merah dan di seberang mata ada razia aku merasa takut. Padahal lagi-lagi harusnya aku ingat kalau aku sudah punya SIM!

Kejadian  hari ini mengingatkanku dengan satu ayat di Yakobus 4 : 17, “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa”.

Jadi barangkali dari kalian ada yang belum punya SIM tapi sudah sering bepergian dengan kendaraan pribadi, baik motor maupun mobil. Buatlah SIM ^^

Jangan contoh apa yang sudah aku lakukan, itu salah. (YD)

Sometimes we’re broken and we don’t know why….

indexWe laugh, we cry….
Sometimes we’re broken and we don’t know why….

 

Hallo semuanya lama ga update tulisan, lama ga cerita-cerita, lamaaaa banget lah pokoknya ms.word ku cuma kepake buat edit-edit skripsi. And finally akhirnya yaa cetak skripsi hard cover dikumpul juga ke pak Kajur dan kuy malam ini aku mau banyak cerita nih.

Entah nanti ujungnya apa, ngalir ajalah ya kita 🙂

 

Ketika ada niatanku buat nulis entah kenapa sepenggal lirik original sountrack film Letters to God muncul dan terngiang di ingatanku lalu berakhir dengan aku menyanyikannya tanpa henti.

Entah karena kemarin banyakan waktu luang, aku menghabiskan waktu dengan membaca dua buku: yang satu buku galau yang satunya lagi buku tentang kerohanian gitu. Kemudian hari ini di gong-i dengan nonton web series di youtube.

Setelah ramuan buku bacaan dan tontonan web series itu aku cerna, gak tau kenapa aku kok malah jatuhnya jadi galau-galau yaa. Pun kalau aku disuruh menjelaskan penyebab galau, aku sendiri ga bisa jelasinnya. Hahahah yaampun random banget deh ya wanita ini #ga aku banget padahal

*****

Sementara galaunya belum lewat aku memutuskan untuk buat kopi. Mana tau kan habis minum kopi jadi agak bener ini perasaan, duh apaan ini. Sebenernya bukan masalah perasaan juga sih. Mungkin pas aja apa yang dibaca di buku dengan apa yang aku tonton di web series tadi. Bayanginlah dari siang sampe sore aku nonton 17 episode. Yakin ini gak aku banget. Bisa betah berlama-lama nonton sesuatu di youtube via hp lagi. Layer kecil bikin mata lelah dan punggung pegel (maklum nontonnya sambil tiduran, hehhe).

Tapi yang aku dapat sih ini bukan suatu kebetulan.

*****

Bukan suatu kebetulan karena hari-hari ini sedang terlalu banyak yang aku pikirkan. Gak biasanya banget lah pokoknya. Dari sekian banyak yang aku pikirkan, kurasa beberapa membuat sukacitaku tercuri. Padahal kalo mau dipikir bener-bener yaa sukacitaku tetap utuh, hanya karena fokusku sedikit beralih ke pikiran-pikiran tadi jadi yaa gini deh heheuuu…

Sebelum sukacitaku dicuri semua akhirnya aku putusin buat sate, aku teringat ayat natalan kemarin di Amos 5:6b.

Yang mengatakan : “Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup.”

Satu ayat doang sih yaa, tapi ampuh banget buat menjawab semua hal yang kukatakan “kepikiran-kepikiran” tadi.

Emang bener sih apa kata lirik lagu tadi itu. Kadang kita ketawa, kadang kita nangis, bahkan kadang kita patah. Dan parahnya kalo ditanya apa sebabnya, kadang jawab “ga tau”.

Kadang kita lelah dan berkutat dengan banyak hal. Ndak tau mana yang dituju, apa yang jadi fokus. Kemudian sok-sokan bilang “let it flow aja”.

Pas udah sok-sokan jalanin dulu aja, terus ketemu banyak tembok besar dan muncullah pertanyaan demi pertanyaan (yang kadang cuma dibatin tok, ga diutarakan ke Tuhan pun pembimbing).

Haduhhh, penyakitku banget. Sorilah kayanya malam ini emang tu ayat khusus buat aku yaa, tapi barangkali dari kalian pembaca merasakan yang sama. Yaaaa syukurlah aku ga sendirian berarti, wkwkwk.

*****

Aduh tiba-tiba kehenti juga ketikan ceritaku ini,

Dan aku mau nyelesaiin lirik lagu tadi, jadi kaya dibawah ini…

We laugh, we cry
Sometimes we’re broken and we don’t know why,
I’m tired and I lose my way,
you help me find faith, oooooo

*****

Berasa kena tegur aja sih, kata “you” yang aku bolditalic itu bisa dibilang Bapa atau orang-orang disekitar kita sendiri. Ketika mungkin aku merasa apa-apa bisa, ini itu sanggup, sana sini kuat. Kadang, eh pasti tetap akan ada satu titik dimana kita perlu orang lain, perlu pertolongan Bapa. Tapi parahnya ya itu kadang aku masih suka ngelak dengan mengatakan “I’m okay, I can”.

Setdah sombong banget yaaa, sampai satu waktu ini yang kepikiran-kepikiran tadi itu penuh dan meluap karena aku ga kuat nampung sendiri dan berakhir dengan mengganggu fokus pun sukacitaku (jadi tercuri katanya tadi).

Ya aku lupa, ada Dia dan orang-orang yang selalu siap menolong.

Salah satunya ya membantuku melihat dan berpegang pada pengharapan yang disediakan-Nya.

*****

Nangis boleh, ketawa banyak-banyak boleh, patah pun juga boleh banget.

Supaya apa?

Supaya aku terus sadar, aku adalah manusia lemah yang selalu butuh pertolongan-Nya.

Well selama raga ini ada dibawah kolong langit, ga akan ada yang namanya hidup enak dan lempeng-lempeng terus. Pasti kan ada lah masa naik turun, nanjak nikung, nge-gas nge-rem.

Semuanya itu Dia ijinkan ada supaya aku, kamu, kita senantiasa hidup bergantung (hanya) pada-Nya.

Gatau sih sharing ngetik ketikku malam ini bisa dipahami atau ndak, tapi yaa inilah berkat terselubung dalam kegalauan ga jelas yang aku nikmati malam ini.

Yang pasti semua bukanlah kebetulan.

Cari TUHAN, maka kamu akan hidup.

Rangkaian kata “akan hidup” itu dah mencakup banyak hal lhoooo, so kalo yang pritilan-pritilan aja TUHAN perhatikan apalagi yang serangkaian besar kan?

*****

Jadi diingetin satu hal lagi, kalo udah mulai banyak yang jadi “kepikiran-kepikiran”  itu, jangan tunda-tunda buat segera share ke Dia. Jangan di pendam lama-lama, tar pusing sendirian. Hahahahaha…

Oke good night semuaa, selamat semakin dalam lagi tenggelam dalam kasih dan anugerah-Nya 🙂

Bonusnya nih aku share link lagu yang di atas tadi, dengerin baek-baek yaaa…

Hikmah Setelah Akhirnya (Mau) Datang ke Acara Wisudaan

PhotoGrid_1542133142082

Aku memang tergolong kaum sanguin, tapi tak sedikitpun aku meyukai keramaian yang terlalu. Terutama keramaian hal pelepasan mahasiswa alias acara wisuda di kampus. Seperti yang hari ini terlaksana di kampusku. Selama aku kuliah, bisa jadi 3 jari dari tangan kanan menjadi kalkulasi final aku pernah mendatangi acara wisuda di kampus. Kalo bukan benar-benar sudah teman baik atau sudah kuanggap seperti saudara sendiri, jauh lebih baik bagiku memberi selamat dengan pergi ke kosnya saja. Daripada harus berpanas ria mencari satu orang diantara 1500 atau bahkan 2000 wisudawan/wati, bisa kebayang ga sih engapnya nafas ini. Belum lagi kalo temenku perempuan, aku harus membuka mata lebar-lebar menerka dia yang mana yaaa. Sebab diantara ribuan wisudawati jelas semua akan nampak “manglingi” oleh karena make-up mereka masing-masing. Tak jarang juga itu yang menyebabkanku salah menyapa orang hahahhaha. Lucu bukan?

“Bukan lucu menurutku, tapi cukup bahkan lumayan melelahkan”, seperti kejadian hari ini. Aku mencari satu temanku diantara banyak orang, kukontak melalui whatsup tapi tak kunjung dibalasnya. Aku telfon pun tak diangkat. Entah apa yang harus kulakukan dengan bouket bunga yang sudah kubeli ini, andai-andai ku tak menemukannya. Tapi ternyata Semesta berbaik hati padaku, baru beberapa langkah berjalan menuju gedung auditorium kusudah berhasil menemukannya. Setelah kuberikan bouket seraya memeluk dan mengucapkan beberapa kalimat, segera aku bergegas pulang.

Ketika kuberjalan menuju parkiran di ujung kampus. Sekilas aku mengenali seorang dengan langkah lesu di sampingku. Tadinya aku memang tak begitu peduli dengannya, namun lama kelamaan ada yang memaksaku untuk berhenti dan mengamat-amatinya. Ya dialah salah satu kakak tingkat misterius di jurusanku, Psikologi.

Sembari kumenjawab pertanyaan dadakan yang muncul dalam benak, aku mencoba berjalan sejajar dengannya tapi tak bisa. “Ih kenapa kakak satu ini berjalan lesu sementara gelar S.Psi sudah sah mengekor di belakang namanya?”, tanyaku dalam benak. “Bukankah ini hari bahagianya? Kemana rupanya teman-temannya? Kenapa dia tak tinggal lebih lama di auditorium untuk sekedar bercakap dengan yang lainnya?” beberapa pertanyaan terus mencercaku menuntut terangnya jawaban. Namun kutak bisa menjawab, karena aku bukanlah dia, dan jikapun aku bisa menjawab pastilah posisi pun peranku tak sama dengannya.

Setelah dia (kakak tingkatku) tak terjangkau lagi oleh pandangku, aku bergegas mendekat ke arah motor dan meraih helm. Sembari mengaitkan tali pengaman helm, aku bergumam menjawab pelan. Kakak itu berjalan lesu mungkin karena ada yang sedang ia pikirkan, entah itu dengan pekerjaan, masa depan atau bahkan pasangan hidup. Wkkwkwk sedikit terkekeh dalam hati, kok sama rupanya kak? Ah apalah ini jawaban mengada-adaku; palingan ini yang akhirnya kanku pikirkan ketika kelak tali toga itu bergeser dari kiri ke kanan di kepalaku.

Taulah kalian terhadap tuntutan beruntun itu. Diawali dengan pertanyaan : Kapan semiar proposal? Kapan mulai penelitian? Kapan sidang? Kapan selesai revisi? Kapan wisuda? Siapa pendamping wisudamu esok hari? Mana calonmu? Kapan nikah? Kapan punya anak? Dan terussssss pertanyaan itu akan berkembang dalam berbagai bentuk dan kemasan wkwk.

Sekiranya dari hari ini aku belajar bahwa manusia itu lebih sering hidup, bertumbuh dan eksis dalam kotak “tuntutan”. Entah itu tuntutan keluarga, masyarakat atau bahkan lidah-lidah netijen yang suka asal ngomong pun menyuruh tanpa dipikir dulu. Yang pada akhirnya tanpa sadar memaksa manusia itu memenuhi semua “tuntutan” itu.

Sabarkanlah hamba ya Allah, mungkin ini cobaan yaaa hahahaha.
Tidak maksudku mengatakan “tuntutan” itu tak baik. Ada juga kok yang karena “tuntutan” , beberapa diantaranya menjadi lebih baik. Namun menurutku ada yang perlu digaris bawahi cetak tebal-tebal dalam pikiran dan tanamkan di hati yaaa. “Gak semua tuntutan itu harus kita penuhi, sebab masing-masing kita punya kapasitas yang berbeda. Aku ga bisa jadi kamu, kamu ga bisa jadi dia dan dia ga bisa jadi yang lainnya. Karena semua kita dicipta khusus dan istimewa”. Tapi bukan berarti hal itu dijadikan alasan untuk kita tak berkembang yaaa….

Dan kamu pun kita bukanlah gulali manis yang bisa menyenangkan hati semua orang, jangan sampai ya kita punya cita-cita bisa menyenangkan hati semua orang. Sebab itu mustahil.

Aduh kenapa aku jadi ngelantur jauh begini yaa, hhheuheu. Tapi inilah yang kupikirkan dan berakhir menjadi tulisan. Maaf untuk janji update tulisan tiap Sabtu yang lagi-lagi terus kuingkari. Entah apa yang kalian cerna dari tulisan ini, besar harapanku ada hal yang bisa kalian nikmati. Oke selamat malam dan selamat beristirahat temans, mari sambut esok hari dengan penuh harapan sebab semuanya akan baik-baik saja ^^ (YD)

Kemurahan-MU Lebih dari Hidup

IMG_20181016_01372001.10 WIB tepat memasuki tanggal 16 Oktober 2018, hari dimana 25 tahun yang lalu Tuhan menghadirkanku di dunia ini. Melalui ibuk dan bapakku, Tuhan mempercayakan aku boleh ada, hidup dan menikmati segala kebaikan Tuhan. Aku menuliskan ini sembari mendengarkan lagu lawas berjudul “Kemurahan-MU lebih dari Hidup”. Benar kata lirik dari pujian ini, bahwa hidupku sampai saat ini terdiri dari kemurahan demi kemurahan yang Tuhan beri.

Tidak ada selain dari-Nya, segala yang Ia jadikan selalu baik. Sekalipun terkadang aku melawan, mengeluh, protes, bahkan tidak terima dengan skenario-Nya dalam hidupku. Ya, aku lupa bahwa terkadang aku sendiri yang membelok-belokkan jalanku dengan cara menuruti inginku sendiri. Hal ini mengingatkanku bahwa Tuhan tak pernah salah dan Ia sungguh berdaulat terhadap perkara-perkara yang Ia ijinkan terjadi dalam hidupku.

Saat ini aku dapat berdiri dengan tegap dalam kasih karunia-Nya sambil menghadap kebelakang dan berkata, “Ya apa yang Tuhan buat baik untuk saya, selalu baik dan tidak pernah tidak baik.” Beberapa waktu yang lalu Tuhan juga membawaku ke titik dimana aku (dalam kemurahan-Nya) berhasil keluar dari padang gurun sebagai mahasiswa, yeay aku sidang! Meski masih ada beberapa revisi, ku mau katakan ini adalah kado terindah di 25-ku kali ini.

Terimakasih ya Tuhan, terimakasih ya Bapa…

Kau selalu ada di setiap musim hidupku. Kau selalu sabar menanti anak-Mu yang nakal ini kembali kepada-Mu. Ajarku terus menghitung dan mempergunakanhari-hariku dengan bijaksana. Supaya aku dapat melihat hari-hari baik yang Engkau janjikan.

Terimakasih Bapak, Ibuk…

Kasih, kemurahan, kesabaran kalian terhadapku yang tak pernah habis, bahkan tak kan mungkin habis. Belum dapat kubalas apa yang kalian perbuat dan beri pada ku. Satu pintaku pada-Nya, “Tuhan beri kesehatan dan sukacita serta damai sejahtera, kemurahan Tuhan senantiasa melingkupi kehidupan kedua orang tuaku dan kakakku satu-satunya, Mbak Ayu.