Through Up and Down, He always beside me… (part 1)

 

PhotoGrid_1533754296295

Hari-hari ini di setiap malam, saya seperti sedang mengikuti lomba petualangan mencari emas di dasar laut tanpa tabung oksigen dengan batasan waktu tertentu (sedikit hiperbola neh). Bertanding dengan waktu, kesempatan dan kemalasan yang hakiki. Bukannya apa-apa, memang benar saya sedang berlari kencang dengan waktu sidang skripsi bulan ini.
Tapi apa daya, mahasiswi (yang kali ini) selalu berusaha tapi tetap seolah-olah dosenlah yang menentukan waktunya. Ya, masa ini adalah masa dimana malam hari saya mati-matian membuka mata alias begadang demi revisi dan pagi harinya adalah masa dimana mata terasa berat untuk dioperasikan namun ga mungkin dong kalo saya ga ikut antri bimbingan. Secara malamnya saya sudah berjuang menyelesaikan revisi tapi masa iya paginya saya mau buang waktu untuk tidak ngejar-ngejar (ciee dah kaya film India aja) dan ngantri sampe lemas karena lapar demi satu kesempatan yang dinamakan “bimbingan”.

Selain memang waktu sudah terbatas untuk saya mengerjakan skripsi, sayapun merasa jalanan kampus sering macet, yaa akibat mahasiswi seperti saya ini. Duh mulai baper lagi nih, iya lebaran lalu saya berkunjung ke tetangga yang mana sekaligus kakak tingkat saya (yang sudah lulus). Dia katakan bahwa mahasiswa di kampus makin taun ga makin berkurang jumlahnya malah terus bertambah, bahkan berbunga. Kenapa sebabnya? Ya sebab mahasiswa kaya kamu (saya) yang ga lulus-lulus.
Widiw dalam amat ya kata-katanya. Iya bisalah alasan ini dibenerin, meski itu adalah 0,000 sekian persen dari alasan saya belum kelar-kelar juga skripsinya.
Jadi tolong yaa kasih kesempatan saya untuk sedikit membela diri. Sebenarnya saya sudah kehabisan malas, saking rajinnya kalian bisa tengok kelopak mata saya. Mulai menghitam dan ah sudahlah, ga perlu juga dijelaskan. Sebab yang ga ngejalanin mah mana bisa ngertiin.
Oke any way sampe diparagraf atas ini aja saya curhat dan mengeluh (dikit kan?).
Jadi karena malam ini saya baru mulai revisi bab 4, yang mana bagian-bagian di revisinya ga begitu susah. Dan saya sudah terlanjur melek (re : begadang).
Iseng-iseng saya cari buku sate waktu saya awal-awal kuliah. Saya pun membaca lembar demi lembar, kata demi kata, dan berkat demi berkat yang saya nikmati setiap harinya.
***
Sekilas teringat dengan nasihat seorang nan keren. Ketika sempat saya ceritakan tentang mimpi dan panggilan yang Tuhan taruh dalam hati saya. Dia berkata seperti ini, “Mulai buka buku satemu, baca janji-janji Allah kemudian rangkai itu menjadi suatu bayangan yang indah pada suatu keadaan; yakini itu dalam janji Allah dan mulailah melangkah”.
***
Oke dikesempatan begadang kali ini, saya pun teringat perkataan orang nan keren tersebut. Maka saya buka lembar demi lembar buku catatan sate saya.
Disana saya bisa kembali mengingat akan berbagai kondisi yang Allah ijinkan untuk saya alami. Mengingatkan kalo langit itu ga selamanya biru, hujan ga selamanya turun rintik-rintik terus.
Kadang hujan turun dah kaya air dari pompa pemadam kebakaran, tekanan tinggi dan ga berhenti-berhenti sampai api keras kepala mati.
Tapi ga jarang (alias sering) saya melihat pelangi indah ditengah hujan.
Ditengah hujan lho, bukan pelangi sehabis hujan. Tapi pelangi ditengah hujan. Yaaa karena ketika pelangi datang, hujan itu tetap turun.
Tapi kalian tau gaaa?
Ada satu hal yang terus saya nikmati ketika saya membaca lembar demi lembarnya, yaitu kasih Allah.
Ya kasih-Nya yang buesaaaarrrr itu ga pernah berhenti dan terbatas oleh apapun.
Kasih-Nya tetap dari dulu, sekarang, besok, besoknya lagi, pas besoknya lagi skripsi saya belum di acc, besoknya lagi waktu dosen menolak bertemu dan bimbingan dengan saya, besoknya lagi ketika saya menyelesaikan jenjang sarjana ini; bahkan sampai selama-lamanya. Kasih-Nya ndak pernah berubah, ndak berubah sama sekali.
Saat saya berada di atas, di bawah, di atas angin (avatar mode on), di dalam gelombang pasang, tenggelam dan malu untuk berbalik lagi pada-Nya.
Kasih-Nya tetap sama!
***
Baiklah di tengah malam (01.30 WIB) yang membuat ucapan syukur saya kembali meluap sampe tumpeh-tumpeh ini. Saya mau kembali mengingat dan memegang janji-Nya dalam Ayub 42:2 yang berkata demikian, “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal”.

Ya memang benar ndak ada satupun rencana-Nya yang gagal, baik itu untuk saya, untuk anda, bahkan untuk seisi dunia ini. Rencana-Nya mendatangkan damai sejahtera dan hari depan yang penuh harapan.
***
Oke ketika saya mengetik kalimat terakhir paragraf di atas jajaran tiga bintang ini, saya sudah mulai menguap alias mengantuk. Lain waktu saya akan menyambung kembali apa yang sudah retak. Eh bukan, saya akan kembali menulis rangkaian kasih-Nya yang ndak pernah putus yang saya nikmati dalam hidup saya.
See yaaa ^^

Good night and God bless you!

 

#kamus kecil
Sate adalah kependekan dari saat teduh. Saat dimana seseorang membaca, merenungkan dan menuliskan berkat dan firman Tuhan, biasanya dilakukan di pagi hari sebelum seseorang tersebut beraktivitas.

Iklan

SUARA HATI ANAK PAPUA ( Yang belum ikhlas listrik naik, wajib baca ini)

31950169_2042211422700335_4028219671953014784_n

 

Banyak orang yang sok tahu tentang Papua. Nulis begana begini begono tentang Papua.
Eh saya hidup di Papua sejak 1995 tak mau belagu nulis tentang Papua, apalagi sok tau.
Saya hidup di daratan Serui, tahu Serui tidak?
Daerah ujung tipis yang masyarakatnya hidup di garis bawah sejak bumi ini ada. Miskin ?? Sudah pasti. Tapi kami tahu cara bersyukur pada Tuhan.
Stop lah menulis tentang kami anak-anak Papua. Jangan lagi kalian mencari nama dengan seolah-olah berempati pada kami, tapi tidak melakukan apa-apa.
Kalian mungkin beruntung hidup di barat Indonesia. Senangnya bukan main, serba ada dan murah. Kalian lahir pakai dokter, kami tidak.
Kalian bisa menonton tivi sejak lahir bahkan sebelum lahir, kami baru 3 tahun ini. Kalian bisa berjalan di aspal gagah, kami?? Syukur-syukur bukan kubangan babi.
Tau tra kalian berapa harga sekarung beras 50 kg?? Sejuta cuk sejuta!!

Puji Tuhan kami tidak terlalu biasa makan nasi yang mewah dari kecil. Beras itu mewah bagi kami, makanan orang-orang kaya. Kami cukup hidup dengan talas atau enau. Syukur-syukur kalau jagung lagi murah, sedikit mewah lah kami makan sekeluarga.

Tau tra kenapa rumah kami cuma bak kandang sapi kalian?? Siapa yg mampu beli semen satu sak 2,5 juta. Liat uang segitu gak pernah broo. Cuma tahu baca kami disini.
Boro-boro mau beli semen buat rumah, mikul semen satu sak 20 km udah mati duluan kami disini.

Terus apa kami marah dengan kondisi dan ketimpangan itu?? Tidak.

Kami so biasa jadi anak tiri bahkan di anggap anak pungutan.
Kami biasa di lupakan meski kekayaan alam kami di keruk sampai ke akar bumi, lalu uang nya di beri untuk kalian di barat sana.

Aspal kalian licin, rumah kalian terang, sekolah kalian bagus sudah, rumah sakit kalian mewah.
Kami dapat apa?? Dapat ampas dan kerusakan dri itu semua.
Kami tidak marah, kami ikhlas berbagi sama kalian, kekayaan alam kami untuk mempercantik daerah kalian.
Kemudian hari ini daerah kami mulai di bangun, rumah sakit so ada dokter, sekolah so pake sepatu, harga beras murah sudah, beli semen so tak semahal berlian lagi, jalan kami mulai lebar.
Tapi kalian ribut!

Apa cuma kalian yang ingin rumah sakit lengkap?
Apa cuma kalian yang ingin jalan beraspal?
Apa cuma kalian yang ingin makan nasi?
Apa cuma kalian yang ingin pasang listrik?
Heeiiiii kami jugaaa..!
Kami juga manusia Indonesia.
Cukuplah kulit kami saja yang gelap, daerah kami jangan!
Cukup rambut kami saja yang bergelombang, jalanan kami jangan!
Cukuplah kekayaan alam kami saja yang kalian keruk, sifat kalian juga jangan macam beruk.
Ikhlaslah sedikit berbagi dengan kami anak-anak Papua, anak-anak pelosok rimba yang juga ingin merasakan bagaimana di anggap layak nya manusia!

Di tangan tukang kayu yang rupanya tidaklah gagah, badannya tidaklah tegap tapi kami dianggap!
Kami di setarakan.
Kami di hargai selayak manusia Indonesia.
Kami tidak kenal rupa tukang kayu itu, tapi hasil kerjanya, membuat kami kenal bagaimana kearifan, kebijaksanaan, keadilan, kesejahteraan yang merata ada dalam benak kepemimpinannya.
Dan dia mencoba untuk berbuat yang terbaik untuk kami.
Membangun tidaklah mudah, apalagi membangun Papua, daerah dengan struktur alam perbukitan, meliuk dan daerah yang masih beralam brutal karena tidak terjamah pembangunan selama ini.
Semua butuh waktu.
Semua butuh proses.
Tapi seorang anak desa pinggiran Sungai Bengawan Solo telah berupaya dan terus berjuang untuk kemajuan kami anak-anak Papua.
Terima kasih presidenku…
Terima kasih bapak…

Presiden Joko Widodo di tangan anda, kami merasakan layak nya di anggap manusia Indonesia.
Salam dari Serui… dari anak bangsa yang pernah terpinggirkan.

#CristianPundulay

 

Do you love ME?

20180709_091931_0001

Ajarku tuk lebih lagi mengasihiMu, bawaku mengerti isi hati-Mu…

Ya ketika aku memutuskan untuk mencoba mulai menulis lagi, terdengar suara pujian seperti lirik di atas.

Hmmmmmm…. ketika syair pertama kudengar maka muncullah pertanyaan : “Benarkah saya sudah mengasihi Allah dengan serius?”

Serius?

“Iya sudah serius mengasihi Allah atau belum?”

Ataukah masih main-main terus dengan hidup saya, tanpa perduli dengan kedukaan hati-Nya.

Bisa jadi ketika dari atas Ia melihat saya menjalani hidup sesuka-suka hati saya, Allah mengamat-amati lalu berduka. Lagi-lagi anak kesayangannya mendukakan hati-Nya.

Ya memang terkadang saya masih lalai untuk terus berjalan taat pada ketetapan-ketetapan-Nya, tak jarang pula saya mendukakan hati-Nya dengan berbuat sekehendak saya sendiri.

Saya lupa bahwa hidup saya hanya sementara, hidup saya ini milik-Nya, saya hanya dimandati untuk mengelola apa yang ada pada diri saya sebaik mungkin sehingga nama Tuhan semakin dipermuliakan.

Ketika saya menyatakan hidup saya ini adalah milik-Nya, saya kembali teringat dengan cita-cita saya. Ya, apakah cita-cita saya adalah milik saya atau milik-Nya?

===

Kemudian saya teringat dengan tulisan seorang pekerja Tuhan yang menulis demikian :

Manusia diciptakan dengan tujuan kusus dari Allah untuk mengerjakan setiap bagian yang Allah sudah tentukan dalam hidupnya. Namun seringkali dari banyak kasus yang terjadi , manusia tidak sampai pada tujuan kusus yang Allah sudah tentukan. Hal ini terjadi karena seringkali manusia lebih memilih untuk melangkah pada tujuan hidup yang dirancangnya sendiri menurut kehendak hatinya.

Sampai pada akhirnya seperti tidak ditemukan sebuah esensi dari hidupnya, manusia cenderung memilih menghabiskan banyak waktu untuk memperjuangkan kepentingan dan mimpi-mimpi pribadi; tanpa disadari manusia sedang keluar dari rencana Allah yang besar atas hidupnya.

===

Rupa-rupanya terhubung juga pertanyaan tadi : “sudahkah ku mengasihi Allah dengan serius dan apakah cita-cita ini milikku atau milik Allah?

Bersyukur sekali karena Roh Kudus langsung ingatkan bahwa ketika saya mengasihi Allah dengan serius pun sungguh-sungguh. Maka secara otomatis saya akan memberikan apa yang terbaik pada diri saya bagi-Nya.

Terlebih memberikan cita-cita saya. Karena ketika saya mengasihi Allah, saya yakin Allah pun sudah terlebih dahulu mengasihi saya (bahkan ketika saya terus membuat-Nya berduka). Jika Allah mengasihi saya, maka jelas Ia akan menjamin segala sesuatu yang terkait dengan saya.

Tinggal bagaimana saya mau serius dan sungguh-sungguh mengasihi-Nya serta mencari kehendak-Nya. Terus berkomunikasi dengan-Nya, sehingga telinga saya peka dengan setiap perkataan-Nya.

===

Setelah sedikit cerita di atas tadi, saya melanjutkan membaca tulisan pekerja Tuhan tadi :

Kita yang beroleh kasih karunia keselamatan dan ditebus dengan maksud menjadi milik kepunyaan Allah seutuhnya tidak dipanggil untuk hidup dalam kehendak pribadi kita, namun secara kusus kita dipanggil untuk melakukan misi Allah yang besar atas dunia, yaitu membawa banyak jiwa untuk datang kembali kepada Bapa.

Yesaya 42 : 6,7

6 “Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan , telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa,

7 untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.

===

Mari terus belajar mengasihi-Nya dengan serius dan sungguh-sungguh! (YD)

Lakukan Apa Yang Baik

lakukan apa yang baik

Pagi ini mentari masih enggan menampakkan dirinya ketika aku bergegas mengambil handuk untuk mandi di teras belakang kontrakan. Hmmmm… mungkin sebentar lagi mentari akan segera muncul meski harus diawali dengan rintik hujan.

Setelah selesai mandi aku langsung bergegas untuk melanjutkan lembar revisi skripsiku. “Aku harus segera menyelesaikan ini supaya dapat segera kuletakkan di meja dosbing”, gumamku. Namun apa daya mendung yang tak kunjung usai membuatku mengurungkan diri. Akhirnya kuputuskan hari ini aku akan pergi ke perpustakaan saja.

Sembari mempersiapkan isi tas, tak lupa aku mengecek waktu. Ya karena jika aku ke perpus lebih dari pukul 09.00 maka bisa dipastikan tak akan mendapatkan colokan untuk laptopku yang batrainya mulai error.

Tak lupa kuambil helm dan kacamata, memasang jam tangan kayu matoa kesayangan, menyalakan mesin motor dan berangkatlah aku ke perpus kampus.

Ketika baru saja aku keluar dari pertigaan gang perumaahan kontrakan tempat tinggalku, mataku tiba-tiba terbelalak. Fokusku terpecah pada dua objek dalam satu waktu. Pertama oleh lembaran uang berwarna biru di tengah jalan yang sudah bisa dipastikan berapa besar nominalnya. Kedua oleh seorang ibu yang mengendarai matic merah, mengenakan daster kuning dan sedikit kesulitan karena membawa 2 gas tabung ukuran 3 kg yang diapit oleh kedua kakinya. Sepertinya ibu inilah pemilik uang lembaran biru tersebut, karena dari kejadian yang kutangkap uang tersebut lari terbang dari arah saku daster kuning yang dikenakan ibu tersebut.

Maka muncullah dua pikiran dominan di dalam tempurung kepala ini. Aku sedang butuh uang, kuambil saja uang itu atau aku tau sedang ada yang memerlukan uang itu untuk membeli gas.

Oke aku tak punya waktu lama untuk berpikir. Satu ayat dalam Yakobus pasal 4 ayat 17 langsung mampir dalam benakku. “Jadi jika seorang tau bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”

Akhirnya aku menepikan motorku tanpa mematikan mesinnya, aku berlari ke arah uang yang berada pesis di tangah jalan dengan hiasan motor kecepatan tinggi di kanan dan kiri. Sebetulnya aku malu jika harus mengambil uang itu karena pasti orang-orang di sekeliling akan melihat dengan berbagai perkiraan pikiran. “Ingat dosa, ayo lakukan hal yang baik”, timpal egoku. Langsung saja aku kembali ke arah tepi menghampiri motorku dengan mesin yang masih menyala, mengarahkan kemudi untuk berbalik arah. Tancap gas keras-keras mengejar matic merah dengan pengendara ibu berdaster kuning. Namun setelah beberapa jarak jauhnya tak kutemukan matic merah itu. Akhirnya aku memutuskan untuk mulai menoleh kanan kiri.

Sepertinya ini petunjuk dari Tuhan Pencipta Semesta, di sisi kanan kudapati matic merah itu. Namun sayang tak kulihat ibu berdaster kuning. “Aduh dimana ya uangku, tadi disaku ini kok”, sayup kudengar perkataan seorang ibu dibalik bilik. Tidak salah lagi dialah yang kehilangan uang lembaran biru yang kutemukan tadi. Tanpa basa basi aku parkirkan motor berlari ke arah ibu tersebut dan tanpa ba bi bu kubilang “Bu, ini uangnya tadi saya lihat terjatuh dari daster ibu.”

Ibu itupun berucap terimakasih sambil menampakkan mimik terkejut sekaligus syukurnya.

* * *

Yaaaa akhirnya hari ini aku berhasil berbuat apa yang baik. Setelah berpikir dalam waktu singkat, memilih antara id dan ego. Antara yang baik dan kurang baik. Antara yang sebenarnya aku membutuhkan juga namun aku ingat uang biru itu kan bukan milikku. Bukan hak ku, jadi aku memilih untuk mengembalikan uang biru itu pada pemilik sah-nya.

Kenapa sih kita harus memilih melakukan yang baik?

Kanapa jika kita tau dan dapat melakukan hal baik lalu kita tidak melakukannya malah kita berdosa. Ya jelas, karena kita bisa melakukan namun kita memilih untuk tidak melakukan.

Terkadang berbuat baik itu bukan melulu berbicara mengenai imbalan kelak, namun mengenai bagaimana kita dapat berjuang dan menang mengalahkan bagian negatif dari pikiran kita.

* * *

Semoga hal ini tak berhenti disini saja, terus dan terus kulakukan.

Jadi kalo kita tau dan bisa berbuat baik, mengapa tidak kita lakukan?

Mengapa masih menunda?

Ayo terus lakukan hal yang baik, sekarang juga yaa ^^ (YD)

Landak yang Bertahan Hidup

hidup-dengan-filosofi-landak

Hari itu musim dingin yang paling dingin dibelahan dunia. Banyak makhluk yang tak bisa bertahan sebagai akibat cuaca yang dingin.

Landak, karena memahami keadaan tersebut, memilih untuk berkelompok bersama. Dengan cara itu, mereka mengamankan dan memastikan diri mereka sendiri tetapi duri masing-masing melukai teman terdekat mereka meskipun mereka dapat saling menghangatkan satu sama lain.

Setelah beberapa saat, mereka memilih untuk memisahkan diri dari yang lain dan dalam waktu yang singkat mereka mulai mati karena membeku.

Kini mereka harus membuat sebuah keputusan : mentolelir bulu mereka atau punah dari Bumi.

Dengan bijaksana, landak-landak itu memutuskan untuk kembali berkumpul bersama seperti sebelumnya. Sepanjang musim itu mereka belajar hidup dengan luka-luka kecil yang disebabkan oleh hubungan dekat mereka dengan teman mereka.

Namun, bagian terpenting dari itu adalah kehangatan yang mereka dapatkan satu sama lain.

Dengan cara ini mereka bisa bertahan hidup lebih lama.

Hubungan terbaik bukanlah hubungan yang menyatukan orang-orang yang sempurna, tapi ada titik dimana individu mengetahui bagaimana hidup dengan ketidaksempurnaan orang lain dan dapat menghargai kualitas baik orang lain.

Kita bisa hidup jika kita bisa mentolelir perbedaan kita. (inspiring story)

TUHAN menghitung sampai 10

matahariSaya sangat suka bagaimana Tuhan menggunakan kehidupan sehari-hari untuk memberikan kepada saya pengertian secara rohani. Pengertian itu seringkali menyelinap dari kejadian-kejadian sederhana yang saya temui. Saya sedang mengantri di toko kelontong sambil memeriksa daftar belanjaan ketika saya melihat seorang gadis kecil menari mengelilingi ibunya. Ibu muda itu pasti terganggu dengan kelakuan gadis kecilnya yang cukup merepotkannya sepanjang hari. Tatapan mata maupun nada suara yang digunakannya untuk membuat gadis kecilnya berdiri dengan tenang masih saja diabaikan. Sambil memandang mereka, saya berpikir ibu itu pasti akan menggunakan pukulan lembut pada putrinya (ibu saya sering memilih hal itu ketika saya masih kecil).

Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Ibu yang sabar ini hanya berkata kepada putrinya, “Mama akan hitung sampai sepuluh!” Sepuluh? Saat itu gadis kecil ini pasti sudah menjatuhkan beberapa baris kotak dan kaleng-kaleng serta berlari keluar dari pintu, pikir saya. Dan jangan berpikir bahwa ibu itu akan menghitung dengan cepat. Saat saya melewatinya, ibu itu sedang berkata, “Satu… dua…”, ia menghitung dengan sangat lambat. Saya tidak berani lagi melihat kelanjutannya. Ibu saya akan menghitung juga jika saya nakal. Tapi tidak pernah lebih dari tiga. Namun ketika saya keluar dari tempat parkir, saya melihat ibu dan gadis kecil itu berjalan keluar dari toko. Jadi entah bagaimana, gadis kecil itu tahu untuk merespon peringatan ibunya.

Kejutan nyata datang kemudian di hari itu. Tuhan mengingatkan saya akan apa yang baru saja saya saksikan dan Ia berbicara di hati saya. Tuhan berkata, “Aku juga menghitung sampai sepuluh.” Tuhan mengingatkan saya bahwa Ia adalah Tuhan yang sabar, baik hati dan Bapa yang penuh kasih. Tuhan tidak hanya menghitung sampai tiga lalu kemudian memukul untuk mendapatkan perhatian kita. Dia menunggu dan memberikan kita banyak kesempatan untuk menanggapi suara lembut Roh Kudus – Pribadi yang selalu berusaha menyadarkan dan membuat kita berdiri dengan diam.

Beberapa dari Anda mungkin merasa Tuhan sedang menunggu kita untuk melakukan suatu kesalahan sehingga ia bisa menimpakan hal yang buruk kepada kita. Tapi Tuhan tidak seperti itu. Tuhan menghitung sampai sepuluh dengan sangat lambat, sama seperti ibu yang ada di toko kelontong tadi. Tuhan mengasihi kita dan tidak ingin menyakiti kita. Tuhan memiliki rencana yang baik bagi hidup kita.
Yeremia 29:11
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Percayakan hidup Anda hari ini kepada-Nya. Dia selalu ada untuk Anda, tidak peduli apa yang sedang Anda alami dalam hidup Anda.

Sumber : Martha Noebel

 

Memaafkan Itu Pilihan

download (1)

Di bulan Januari, ketika sahabat karibku berpulang setelah menderita sakit, aku merasa terdorong untuk memberikan pidato perpisahan. Sejenak aku mulai mengingat satu per satu ingatanku tentangnya dan merenungkan apa yang akan kutulis.

Mey sahabatku ini memiliki beberapa kualitas yang mengagumkan, tetapi yang paling menonjol adalah kemampuannya untuk memaafkan orang yang melakukan kesalahan. Aku salalu takjub bahwa terlepas dari apapun yang dilakukan oleh seseorang, dia selalu menemukan maaf di dalam hatinya.

Satu kualitas dari Mey ini mengingatkanku akan kejadian beberapa tahun lalu. Ryan, nama temanku. Seorang penggebuk drum terbaik yang pernah kukenal. Selain bermain bersama dengan band cafe-nya, dia juga ikut pelayanan komisi musik di gereja.

Singkat cerita aku mengenalkan Ryan pada Mey. Mereka dekat dan akhirnya menjalin suatu hubungan dengan komitmen ke arah yang lebih serius, alias bukan untuk main-main lagi.

Sampai suatu ketika aku sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan. Kami menyantap makan siang  di food court “Pelangi”.

Dari kejauhan sayup kulihat Ryan berjalan bersama seorang wanita dengan bayi di gendongannya. Tanpa perlu banyak pikir lagi, kamipun (aku dan Mey) mengetahui bahwa wanita itu adalah isteri Ryan. Sementara dalam waktu yang bersamaan Ryan masih menjalin hubungan dengan Mey dan menjanjikan akan segera melamar Mey.

Semua harapan Mey sirna, aku marah pada Ryan karena dia sudah berbohong dan menyakiti hati Mey sahabatku. Namun berbeda dengan Mey, dia yang harusnya lebih sakit daripada aku; begitu cepat memberikan maafnya kepada Ryan.

Hari-hari Mey berlalu begitu saja seolah tak terjadi apa-apa. Namun malah aku sendiri yang kelimpungan menahan amarah dan dendamku pada Ryan. Jelas aku tak terima dia sudah menyakiti hati sahabatku Mey.

=========

Kembali aku menghadap pada kertas lembar pidato perpisahan dengan pena di tangan kanan. Ku hirup nafas dalam-dalam, berat kubilang keputusan memaafkan yang sudah diambil Mey.

Jika aku yang jadi Mey, aku tidak bisa berjanji akan dapat memaafkan Ryan. Namun untung saja Mey bukan aku.

Tanpa sadar kertas berisi pidato perpisahan itu basah oleh air mataku. Mengingat betapa luasnya hati Mey dan betapa sempitnya pemikiranku hingga kini aku belum dapat memaafkan Ryan. Padahal Mey-lah yang disakti oleh Ryan.

Melalui semua ini aku telah belajar dari Mey. Belajar bahwa memaafkan adalah sebuah pilihan yang bisa kita buat, jika kita bersedia mengesampingkan gengsi dan perasaan terluka.

Di sisi lain, dari maaf terdapat kedamaian yang tak terkira. (YD)